Menjelajah Ke Peradaban Suku Baduy Dalam Banten
Alpha Travel - Lebih dekat dengan alam, rasakan bagaimana manusia demikian menghormati alam. Semuanya dapat diperoleh waktu bertandang ke Baduy Dalam. Indahnya!
Perjalanan saya kesempatan ini yakni bertamu ke suku baduy dalam. Suku Baduy adalah satu diantara suku pedalaman yang ada di Pulau Jawa yang tepatnya di pedalaman Kabupaten Lebak propinsi Banten.
Suku Baduy terbagi dalam Baduy Dalam serta Baduy Luar. Dari info Sapri warga suku Baduy kalau suku Baduy Luar terbagi dalam 94 dusun serta Baduy Dalam terbagi dalam 3 dusun. Waktu kami bertandang ke Baduy Dalam cuma dapat masuk ke satu diantara dusunnya.
Perjalanan saya ke kampung suku Baduy Dalam dengan start dari Kota Bandar Lampung menuju Pelabuhan Bakauhuni memakai bis umum AC ekonomi dengan biaya Rp 30 ribu. Setelah itu dari Pelabuhan Bakauhuni menyebrang Selat Sunda menuju Pelabuhan Merak dengan memakai kapal ferry.
Harga tiket penyeberangan sebesar Rp 15 ribu. Setelah itu sesudah di kapal dapat masuk ke ruang ac dengan membayar Rp 10 ribu. Sesudah di Pelabuhan Merak dilanjutkan naik bis umum menuju Terminal Kampung Rambutan dengan biaya Rp 25 ribu.
Sesudah di Jakarta kita berkumpul di Stasiun Tanah Abang untuk menuju ke Stasiun Rangkas Bitung pada jam 7. 00 WIB. Harga tiket keretanya yaitu Rp 15 ribu. Sesudah tiba di Rangkas Bitung dilanjutkan memakai minibus elf menuju ke parkiran mobil di dekat lokasi suku Baduy Luar tepatnya di Desa Ciboleger.
Perjalanan menuju rumah suku Baduy diawali dari terminal mobil di Ciboleger dengan jalan kaki menyusuri jalan setapak, melawati perkebunan, sungai, berjalan-jalan yang berliku, menanjak serta alami penurunan, melalui kampung-kampung Baduy Luar serta rimba lindung.
Perjalanan ke suku Baduy Dalam menggunakan saat sekitaran 5-6 jam dengan jalan kaki untuk untuk tiba disana. Terlebih dulu mulai perjalanan mesti mendaftar di Desa Ciboleger dan terdapat beberapa layanan porter atau pengangkut barang dari suku Baduy sendiri yang siap menolong.
Sesudah tiba di kampung suku Baduy Dalam, kelelahan yang dirasa sesudah jalan sepanjang lebih kurang 6 jam dapat terbayarkan dengan keadaan alam serta kearifan lokal yang mengagumkan. Keramahan mereka dan nilai budaya yang begitu kental disana. Ditambah kesesuaian dengan alam memberi nilai kebanggaan sendiri sebagai anak bangsa.
Pelajaran tentang hidup jadi poin utama sebagai pengalaman di kehidupan alam ini, banyak arti yang dirasa waktu berhubungan disana. Yakni beberapa orang yang ramah, bersahaja serta penuh dengan senyum dan menyatu dengan alam.
Dari ciri kenakan pakaian telah memerlihatkan jati diri mereka yakni dengan kenakan pakaian khas disana yang terbuat dari tenunan serta tak mengetahui beragam type design pakaian. Disana semakin banyak memakai baju warna putih yang melambangkan kesucian. Beberapa orang suku Baduy Dalam begitu melindungi alam satu diantaranya melindungi kebersihan, dimana saya tak lihat sampah dibuang asal-asalan baik di jalan atau di sungai sekitarnya.
Terkecuali melindungi alam, mereka juga tak berternak binatang. Mereka yakin dengan cara itu bakal menyakiti mahluk ciptaan Tuhan Semua Alam serta mereka lebih pilih bercocok tanam.
Saat di kampung suku Baduy Dalam terdapat banyak ketentuan yang perlu ditaati. Yakni tak bisa berfoto atau mendokumentasikan serta semacamnya, tak bisa dengarkan musik dengan nada keras, tak bisa bermain HP, dilarang buang sampah asal-asalan, serta janganlah berbicara yg tidak sopan.
Di Baduy Dalam kita diizinkan untuk bermalam semalam serta istirahat dengan menumpang dirumah warga. Setelah itu waktu pulang kita dapat melalui jembatan akar yang telah berusia beberapa puluh th..
Demikian indah negeri ini, sayang bila cuma mendengar serta lihat dari orang lain atau media, dengan lihat segera tentu tidak sama. Mari kita jelajah, Indonesia itu indah!

No comments:
Post a Comment